Yuk Lihat Manusia Terpintar Di Dunia!! Habibie Juga Termasuk Loh

8.. Bacharuddin Jusuf Habibie (IQ score of 200)

B.J. Habibie lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Setelah tamat SMA di Bandung 1954 Habibie mendaftar ke ITB(Institute Teknologi Bandung). Diawal masa studinya ternyata Habibie mendapatkan beasiswa dari kementrian pendidikan dan kebudayaan untuk studi di jerman. Ir. Soekarno pernah mencanangkan mengirimkan beberapa anak muda Indonesia untuk menyerap teknologi diseluruh dunia guna memajukan bidang kedirgantaraan dan kemaritiman.

Kampus pilihan Habibie muda adalah Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule(RWTH).Setelah sampai dikampus ini beliau bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan harus sukses di tanah perantauan. Tekad kesungguhan Habibie dibuktikan dengan fokus belajar yang tinggi dan tidak menghabiskan liburannya dengan hanya bersenang-senang.

Habibie mendapatkan gelar diploma Ing dari Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule(RWTH) pada tahun1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna).

Setelah lulus dari Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule(RWTH), Habibie memulai karir bekerjanya di Firma talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Di Firma Talbot Habibie mendesain sebuah wagon untuk mengangkut barang-barang dalam volume besar. Rancangan Habibie untuk 1000 wagon Firma Talbot diselesaikan dengan pendekatan teknologi kontruksi sayap pesawat terbang.

Di sela-sela kerjanya Habibie melanjutkan studinya untuk gelar doktor di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule. Kerja keras dan ketekunannya membuahkan hasil yang membanggakan. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan predikat summa cumlaude (Sangat Sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Penemu Faktor Habibie

Saat Habibie menjadi engineer di jerman, dia mempelajari fenomena fatigue (kelelahan) pada kontruksi pesawat. Habibie mencetuskan rumus untuk menghitung keretakan atau crack progression on random. Rumus temuan Habibie ini ia namakan “Faktor Habibie”. Rumus temuan Habibie ini dapat menghitung crack progression sampai skala atom material kontruksi pesawat terbang. Sehingga Habibie dijuluki “Mr. Crack”

Kejeniusan Habibie mengantarkannya menjadi penemu faktor Habibie yang diakui dunia. Habibie diakui lembaga International diantaranya: Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat).

Memang Habibie memegang banyak hak paten atas temuan di bidang konstruksi pesawat terbang, sehingga menjamin hidupnya rutin memperoleh uang royalti. Tak hanya itu, dalam disiplin ekonomi makro pernah dikenal istilah Habibienomics. Semacam pemahaman yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kejeniusan mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) semakin kelihatan encer ketika berhasil meraih gelar doctor ingenieur  dengan predikat suma cum laude pada 1965. Rata-rata nilai mata kuliah Habibie 10. Presatsi ini mengantarkan Habibie menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HFB).

Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Soeharto.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Sebelum menjabat sebagai Presiden (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret 1998 – 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto. Ia diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri.

Please disable your adblock for read our content.
Refresh