Mengenal Masjid Terbesar dan Tertua di Rusia, Masjid Qolsharif

Pihak pemerintah Rusia kini gencar mempromosikan wisata mereka. Namun, kebanyakan, turis Indonesia masih berfokus mendatangi destinasi populer di Rusia seperti Moskow dan St. Petersburg.

Padahal, banyak sekali wilayah Rusia yang menarik untuk dieksplor lebih lanjut. Terutama untuk para pelancong Indonesia yang pasti mendamba cuaca dan iklim sejuk dan lebih dingin dari Tanah Air.

Salah satunya destinasi menarik di Rusia yang kini tengah gencar dipromosikan adalah Kazan, Ibukota dari Republik Federal Tatarstan, sebuah negara bagian Rusia yang terletak sekitar 800 km sebelah timur Moskow, dapat dijadikan sebagai model kesatuan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi antaragama dan etnis. Di negeri ini, umat Islam, Kristen, dan Yahudi telah hidup berdampingan dengan harmonis selama berabad-abad.

Seperti dilansir Saudi Gazette, setengah dari penduduk republik ini terdiri dari etnis Tatar yang hampir semuanya beragama Islam. Sementara, sisanya diisi oleh etnis Rusia (40 persen) dan kelompok-kelompok kecil etnis lainnya.

Kazan adalah salah satu kota yang paling penting di Rusia, terutama terkait urusan ekonomi, ilmu pengetahuan dan pusat kebudayaan. Kota ini terletak di tepi Sungai Wolga

Kazan kerap disebut sebagai ‘The Third Capital of Russia’ dan ‘The Millenial City’. Tahun 2005, Kazan merayakan hari jadinya yang ke-1000 tahun. Kazan pun dikenal karena beberapa potensi seperti teater, festival internasional, perpustakaan hingga kecanggihan teknologi.

Republik Tatarstan adalah salah satu dari 83 wilayah federal Rusia. Mayoritas warga Tatarstan adalah Muslim dan Kristen Ortodoks. Jadi, di sini banyak terdapat masjid dan gereja. Dalam Travel Guide The Republic of Tatarstan disebutkan ada sekitar 700 masjid dan 200 gereja. Kazan berpenduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Mereka menggunakan dua bahasa, yakni Rusia dan Tatar.

Rusia saat ini menjadi negara Eropa yang memiliki perkembangan umat Muslim paling pesat.

Tercatat 6,6 persen penduduk Rusia adalah penganut agama Islam dan mayoritas Muslim di negara ini berada di Kazan.

Wartawan Rusia, Oleg Pavlov menyebutkan, hubungan harmonis antarumat beragama di Kazan sudah dikenal sejak dulu. Bahkan, di era Soviet sekalipun, Kazan dianggap sebagai kota yang unik lantaran menjadi tempat bertemunya dua kebudayaan berbeda, yakni Tatar dan Rusia.

“Kedua unsur budaya ini berbaur di setiap sendi kehidupan masyarakat di kota ini. Sesaat setelah suara azan menggema dari menara masjid, Anda akan mendengar gemuruh lonceng-lonceng gereja. Hal semacam ini bukanlah hal yang aneh di Kazan,” tulis Pavlov dalam artikel “Friends and neighbours: religious harmony in Tatarstan” seperti dikutip dari laman Open Democracy.

Salah satu yang paling terkenal di Kazan adalah Masjid Qolsharif. Masjid Qolsharif merupakan Masjid Terbesar di Rusia dan Eropa.

Interior masjid dengan menara setinggi 52 meter ini mampu diisi 1.500 orang. Sementara 10.000 orang lain ditampung di alun-alunnya. Pendanaan pembangunan masjid yang diperkirakan mencapai 400 juta rubel, sepenuhnya didapatkan dari sumbangan. Di aula utama masjid, ada buku-buku yang mencantumkan nama empat puluh ribu orang dan organisasi penyumbangnya. Hari ini masjid tersebut menjadi Museum Islam. Pada waktu yang sama selama hari raya Islam ribuan orang berkumpul di sana untuk salat.

Sebenarnya, masjid ini dibangun di Kazan Kremlin pada abad ke-16. Dinamai setelah Masjid Qolsharif yang bekerja di sana. Qolsharif meninggal dengan sejumlah muridnya ketika mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1552. Tahun 1552, selama penyerangan ke Kazan masjid ini dihancurkan oleh Rusia.

Untuk mengenang sang ulama dan pahlawan Kazan ini, Presiden Tatarstan, Mintimer Shaymiev, Tahun 1995 mengeluarkan perintah untuk membangun kembali masjid Kul Sharif. 21 Februari 1996 proses pembangunan kembali pun dimulai. Kontes internasional diselenggarakan untuk projek pemugaran masjid. Sebagai hasilnya diputuskan dari 16 kontestan. Restorasi masjid ini berdasarkan pada kondisi teratak masjid yang tersisa berupa komposisi symetris dengan bangunan masjid berada di tengah tengah serta dua paviliun di kedua sisinya. Komplek bangunan masjid tersebut terdiri dari bangunan masjidnya sendiri, lalu dilengkapi dengan perpustakaan, pusat penerbitan dan kantor pengurus masjid.

Arsitektur bangunan Masjid Qolsharif didesain oleh para arsitek Rusia : I. Sayfullin dan S. Shakurov. Sementara bagian interiornya dirancang oleh A. Sattarov. Arsitektur yang terdapat pada masjid ini merupakan perpaduan antara unsur modern dan tradisional yang juga terdapat pada masjid-masjid lokal.

Sejak 1996 Masjid Qolsharif telah dibangun kembali, walaupun bentuknya sedikit modern. Peresmiannya pada 24 Juli 2005 menandakan awal perayaan yang ditujukan pada Kemenangan Kazan.

Beberapa negara ikut menyumbang dalam pembangunan Masjid Qolsharif. Terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Qolsharif dianggap sebagai salah satu simbol terpenting dari keinginan Tatar untuk merdeka dan bebas.

Sekilas pandang, bangunan masjid ini menyiratkan kemegahan. Warna putih dan biru tampak mendominasi bagian luar masjid. Bangunan baru dari Masjid Kul Sharif ini memiliki delapan buah menara dan satu kubah utama yang dapat dilihat dari Katedral Saint Basil, Moskow. Kubah masjid berwarna putih-biru ini berdiameter 39 meter. Adapun kedelapan menaranya, masing-masing memiliki tinggi 57 meter.

Sejak awal penyebaran Islam di Tatarstan, Masjid Qolsharif menempati fungsi sentral sebagai pusat kegiatan umat dalam beragam aspek. Seiring pembangunan masjid itu, mereka juga akan membangun madrasah di lingkungan sekitar Masjid Qolsharif, nantinya akan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Please disable your adblock for read our content.
Refresh